Sidoarjo, Juni 2026 — Malik Ibrahim Art Space (Rumah Budaya Malik Ibrahim) mempersembahkan Made ing Njapan, sebuah program seni dan budaya kolaboratif yang mempertemukan seniman Jepang dan Indonesia melalui residensi, diskusi publik, lokakarya, pertunjukan, pemutaran film serta berbagai aktivitas eksperimental di Sidoarjo.
Program ini lahir dari ketertarikan terhadap berbagai titik temu antara Jepang dan Sidoarjo, baik melalui sejarah, budaya keseharian, maupun praktik craftsmanship yang berkembang di kedua wilayah. Nama Made ing Njapan sendiri terinspirasi dari kemiripan bunyi antara “Japan” dan “Njapanan”, penyebutan lokal untuk wilayah Japanan di Sidoarjo. Meski tidak memiliki hubungan historis langsung dengan Jepang, resonansi linguistik tersebut membuka ruang untuk membangun dialog baru antara dua konteks budaya yang berbeda.
Selama dua tahun penelitian, tim program juga menemukan keberadaan Kadipaten Japan di wilayah Mojokerto yang berkembang sejak abad ke-16 hingga ke-19. Berpusat di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Japan, wilayah tersebut merupakan salah satu titik strategis yang terhubung dengan Delta Brantas, kawasan yang turut membentuk lanskap Sidoarjo hari ini. Temuan-temuan ini menjadi salah satu pijakan konseptual bagi program untuk melihat kembali hubungan antara nama, memori, geografi, dan identitas budaya.
Melalui semangat Monozukuri dan Kaizen, dua filosofi yang kerap diasosiasikan dengan budaya Jepang, Made ing Njapan mengajak publik untuk melihat craftsmanship bukan sekadar kemampuan membuat sesuatu, melainkan sebagai praktik belajar, merawat proses, dan membangun pengetahuan secara kolektif. Program ini berupaya mempertemukan perspektif lokal Sidoarjo dengan pengalaman para seniman Jepang melalui berbagai bentuk pertukaran pengetahuan yang terbuka dan partisipatif.
Rangkaian pembukaan Made ing Njapan diawali dengan pertunjukan kolaboratif antara Masashi Yoshida dan Argamand Patrol Ensemble. Pertunjukan ini menghadirkan aransemen musik yang dikembangkan bersama oleh kedua pihak, disertai sesi eksplorasi solo yang menampilkan pendekatan artistik masing-masing. Melalui pertemuan antara bucket drumming, dan tradisi musik lokal, pertunjukan ini menjadi ruang awal bagi dialog lintas budaya yang menjadi semangat utama program.
Setelah pertunjukan, acara berlanjut dengan Njapan Talk, sebuah sesi percakapan bersama para seniman Jepang yang berpartisipasi dalam program residensi. Dalam forum ini, para seniman berbagi pengalaman mereka selama tinggal dan berkarya di Indonesia, sekaligus
merefleksikan berbagai perjumpaan budaya, praktik artistik, serta pengamatan mereka terhadap kehidupan sehari-hari di Sidoarjo dan sekitarnya.
Rangkaian Made ing Njapan akan berlangsung sepanjang akhir Juni hingga Juli 2026 melalui berbagai program publik. Program-program tersebut meliputi Racik Godhong, sebuah lokakarya eksplorasi budaya minum teh Jepang dan Indonesia; Kursi Panaz, forum reflektif mengenai praktik residensi seni; Bincang Sejarah: Dinamika Dominasi Budaya Jepang, yang membahas pengaruh dan konstruksi citra Jepang melalui perspektif sejarah dan sosiologi; Bincang Sejarah mengenai teknologi nuklir Jepang; Serta pemutaran film The Lines That Define Me (線は、僕を描く), sebuah film yang mengangkat tema proses kreatif dan pencarian jati diri melalui seni kaligrafi Jepang.
Melalui Made ing Njapan, Malik Ibrahim Art Space berharap dapat menghadirkan ruang pertemuan yang mendorong dialog lintas budaya, memperluas cara pandang terhadap sejarah dan identitas lokal, serta membuka kemungkinan baru bagi praktik seni yang berakar pada pengalaman hidup sehari-hari.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal program dan kegiatan publik, silakan menghubungi Malik Ibrahim Art Space melalui kanal media sosial resmi.