MTs Ma’arif NU Ngaban, Kecamatan Tanggulangin, terus memperkuat kualitas pendidikan agar mampu bersaing dengan sekolah negeri.
Madrasah berakreditasi A itu mengandalkan program Modern Language School yang memadukan penguatan bahasa Inggris, pendidikan agama, dan pembentukan karakter.
MTs Ma’arif NU Ngaban mengenalkan program tersebut kepada peserta didik baru melalui Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) yang berlangsung pada 13–16 Juli 2026.
MATAMUDA merupakan kegiatan pengenalan peserta didik baru di lingkungan madrasah yang memiliki fungsi sama dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah umum.
Melalui kegiatan itu, madrasah mengenalkan lingkungan belajar sekaligus memetakan kemampuan awal peserta didik, terutama dalam berbahasa Inggris.
Kepala MTs Ma’arif NU Ngaban, Kiki Nurhayati Ningsih, S.Pd., mengatakan MATAMUDA pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan MPLS. Perbedaannya hanya terletak pada istilah yang digunakan di lingkungan madrasah.
“Kalau di istilah umumnya, seperti kegiatan yang diselenggarakan Kemendikdasmen itu disebut MPLS. Kalau kami di MTs Ma’arif NU Ngaban menyebutnya MATAMUDA. Jadi intinya sama, cuma beda istilah saja,” kata Kiki, Rabu (16/7/2026).
Menurut Kiki, MATAMUDA juga menjadi momentum untuk mengenalkan lingkungan madrasah sekaligus memetakan kemampuan awal peserta didik.
MTs Ma’arif NU Ngaban mengawali MATAMUDA dengan placement test untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris peserta didik. Madrasah kemudian mengelompokkan siswa berdasarkan hasil tes tersebut sebagai bagian dari program Modern Language School.
“MATAMUDA ini diawali dengan placement test. Ini kami membuat pengelompokan kelas dengan cara menyortir dari segi kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris, karena nanti akan ada yang namanya Modern Language School,” kata Kiki.
Selain mengenalkan lingkungan madrasah, MTs Ma’arif NU Ngaban mengajak peserta didik baru mengikuti pelatihan kedisiplinan yang diisi personel Koramil Tanggulangin. Madrasah juga menghadirkan tenaga kesehatan dari Puskesmas Tanggulangin untuk memberikan penyuluhan tentang pencegahan kenakalan remaja dan bahaya penyalahgunaan NAPZA.
Kiki menjelaskan, MATAMUDA tahun ini mengusung tema “Membuka Lembaran Baru, Melangkah Lebih Dekat Menuju Masa Depan.” Madrasah memilih tema tersebut karena peserta didik baru berasal dari latar belakang akademik dan pemahaman keagamaan yang beragam.
Karena itu, madrasah tetap menempatkan pendidikan agama sebagai fondasi utama tanpa mengabaikan pengetahuan umum.
“Jadi di sini kita buka lembaran baru, kita tekankan pemahaman agamanya, karena kita adalah madrasah. Jadi madrasah ini memang penekanannya di pendidikan agamanya lebih banyak, tapi juga tidak tertinggal di bidang pengetahuan umum,” ujarnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, MTs Ma’arif NU Ngaban menerima 103 pendaftar. Namun, hanya 89 siswa yang melakukan daftar ulang dan mengikuti MATAMUDA. Sebanyak 14 calon peserta didik memilih masuk ke SMP negeri setelah adanya penambahan kuota.
“Jumlah siswa, alhamdulillah, yang masuk mendaftar itu adalah 103, tapi yang benar-benar masuk dan mengikuti MATAMUDA adalah 89. Sisanya adalah masuk di kuota tambahan SMP negeri sekitar Tanggulangin atau Candi,” ucapnya.
Menurut Kiki, 14 dari 103 calon peserta didik memilih masuk ke SMP negeri di sekitar Tanggulangin dan Candi setelah sekolah tersebut membuka kuota tambahan. Karena itu, mereka tidak melanjutkan daftar ulang sehingga MTs Ma’arif NU Ngaban menerima 89 peserta didik baru yang mengikuti MATAMUDA.
Meski demikian, MTs Ma’arif NU Ngaban tetap memberikan berbagai kemudahan bagi calon peserta didik. Madrasah menggratiskan biaya pendaftaran dan membebaskan SPP selama satu tahun bagi siswa yang memiliki hafalan Al-Qur’an minimal tiga juz. Fasilitas yang sama juga diberikan kepada anak yatim.
Selain itu, madrasah juga memberikan bantuan biaya pendidikan bagi siswa yatim dan kurang mampu melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) serta dukungan dari donatur tetap maupun donatur mandiri.
“Kalau dari madrasah kami, ada program anak yang tahfidz di atas 3 juz, biaya daftar siswa barunya gratis. Dan pada saat pembelajaran, pembayaran SPP selama satu tahun untuk yang tahfidz itu kita bebaskan, plus beserta juga siswa anak yatim,” kata Kiki.
Kiki mengatakan pihaknya juga aktif mencari donatur untuk membantu siswa yatim dan kurang mampu agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Saya pun tidak tinggal diam, saya juga mencarikan donatur untuk membantu mereka yang dalam status anak yatim dan tidak mampu agar dapat beasiswa,” ujarnya.
Meski jumlah peserta didik baru menurun dibandingkan tahun sebelumnya, Kiki tetap bersyukur atas kepercayaan masyarakat, khususnya dari Kecamatan Tanggulangin dan Candi yang selama ini menjadi penyumbang mayoritas peserta didik MTs Ma’arif NU Ngaban.
“Kami sekolah swasta sudah berupaya sebaik mungkin. Saran saja untuk sekolah-sekolah negeri di sana, kalau memang kuotanya sudah penuh, jangan ditambah lagi,” katanya.
Sementara itu, Humas MTs Ma’arif NU Ngaban, Firmanto, S.Pd., mengatakan MTs Ma’arif NU Ngaban kini menaungi sekitar 333 peserta didik di kelas VII, VIII, dan IX. Madrasah terus meningkatkan kualitas pendidikan melalui prestasi akademik, penguatan karakter, dan nilai-nilai keislaman.
“Dengan dukungan tenaga pendidik yang kompeten serta berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat siswa, kami berupaya mencetak generasi yang berprestasi, berakhlakul karimah, disiplin, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.




