SIDOARJO – Alun-alun Sidoarjo yang kini tampil rapi, hijau, dan modern sejatinya lahir dari sebuah ruang kosmologis bernama Alon-Alon Sidho-Ardjo. Sejak 1 Juni 1860, kawasan ini menjadi pusat baru tata kota Sidokare setelah dipindahkan oleh Raden Toemenggoeng Pandji Tjokro Adi Negoro atau Bupati Sidoarjo pertama dari alun-alun lama di sekitar Masjid Al Abror Kauman.
Foto udara tahun 1946 memperlihatkan wajah alun-alun Sidoarjo sebagai ruang terbuka luas dengan jalur-jalur sederhana yang membelah lapangan. Kawasan ini masih didominasi hamparan tanah dan pepohonan, mencerminkan konsep awal alun-alun sebagai ruang kosong sakral yang memberi jarak antara kekuasaan dan rakyat.
Pegiat Sejarah Sidoarjo, dr. Sudi Harjanto, menuturkan bahwa alun-alun pada masa itu bukan sekadar lapangan kota. “Ia dirancang sebagai pusat kosmologi Jawa, tempat bertemunya simbol kekuasaan, agama, keamanan, dan rakyat dalam satu harmoni,” jelasnya.
Dalam konsep tersebut, pendopo berfungsi sebagai representasi pemimpin, masjid sebagai simbol spiritual, sementara penjara menandai aspek keamanan. Tata letak ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling mengikat dalam filosofi keseimbangan hidup masyarakat Jawa.
Jejak simbolik lainnya tampak pada keberadaan gajahan atau kandang gajah yang dahulu ada di sekitar alun-alun. Menurut dr. Sudi, gajah merupakan lambang tahta dan legitimasi kekuasaan. “Kehadiran gajah menegaskan kewibawaan pemimpin pada zamannya,” ujarnya.
Salah satu elemen paling kuat adalah pohon beringin yang berdiri di tengah alun-alun. Beringin melambangkan raja sebagai pengayom rakyat, sekaligus simbol hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan dalam konsep manunggaling kawulo lan Gusti.
Foto tahun 1978 dan 1990 menunjukkan perubahan bertahap. Bangunan pendopo mulai tampil dominan dengan arsitektur joglo yang lebih tegas, sementara alun-alun mulai dipoles sebagai ruang seremonial, bukan lagi semata ruang sakral terbuka.
Memasuki era modern, wajah alun-alun Sidoarjo berubah drastis. Revitalisasi menghadirkan taman tematik, jalur pedestrian, monumen, pencahayaan artistik, serta area rekreasi keluarga. Ruang kosong kosmologis bergeser menjadi ruang publik aktif yang ramai aktivitas.
“Secara fungsi sosial memang lebih hidup sekarang, tetapi makna filosofisnya mengalami pergeseran,” kata dr. Sudi. Ia menilai, alun-alun kini lebih menonjolkan estetika dan kebutuhan rekreasi ketimbang simbol keseimbangan manusia, alam, dan Tuhan.
Meski demikian, jejak Alon-Alon Sidho-Ardjo belum sepenuhnya hilang. Ia masih hidup dalam ingatan, arsip foto, dan narasi sejarah, menjadi pengingat bahwa alun-alun Sidoarjo pernah menjadi pusat semesta kecil yang sarat makna, jauh sebelum menjadi ikon kota modern seperti hari ini. (Zen)