SIDOARJO – Nama Dusun Jangan Asem di Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon, kerap memancing senyum bagi orang yang baru mendengarnya. Tak sedikit yang mengira nama tersebut berkaitan dengan menu sayur asem. Namun di balik kesan jenaka itu, tersimpan kisah lama yang menjadi bagian dari sejarah lokal Sidoarjo.
Dusun yang berada di wilayah selatan Kabupaten Sidoarjo ini memiliki cerita turun-temurun yang terus hidup di tengah masyarakat. Warga setempat menyebut, nama Jangan Asem berasal dari peristiwa di masa lampau yang berkaitan dengan alam sekitar, bukan kebiasaan makan warga seperti yang sering disangka.
Mia, salah satu warga Dusun Jangan Asem, mengungkapkan bahwa cerita tersebut ia dengar langsung dari para sesepuh desa sejak kecil. Kala itu, kawasan tersebut dikenal sebagai habitat rusa atau menjangan dan dipenuhi pepohonan asem.
“Yang sering diceritakan mbah-mbah dulu, ada seekor menjangan yang mati di bawah pohon asem. Dari situ muncul sebutan ‘Njangan Asem’, lalu lama-kelamaan berubah pengucapannya menjadi Jangan Asem,” kata Mia.
Kisah penamaan tersebut dinilai selaras dengan kajian toponimi atau ilmu tentang asal-usul nama tempat. Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, dr. Sudi Harjanto, menjelaskan bahwa banyak wilayah di Sidoarjo memang dinamai berdasarkan kondisi lingkungan alam pada masanya.
“Kalau menelusuri peta lama dan catatan era kolonial, cukup banyak nama desa di Sidoarjo yang berasal dari nama tumbuhan atau vegetasi dominan, seperti Pilang dan Pejarakan. Jumlahnya bisa mencapai ratusan,” jelas Sudi.
Selain faktor alam, Sudi menambahkan, sejumlah nama tempat juga lahir dari peristiwa khusus atau simbol budaya yang kuat. Ia menyebut, nama-nama unik seperti Bokongduwur, Bokongngisor, hingga Jangan Asem bahkan sudah tercatat dalam peta kuno sejak awal abad ke-19.
Menurutnya, memahami asal-usul nama daerah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga identitas dan memori kolektif masyarakat. “Toponimi adalah cara orang-orang terdahulu membaca lingkungannya. Nama-nama itu adalah warisan budaya yang penting untuk terus dirawat,” pungkasnya. (Zen)