SIDOARJO – Nama Gedangan yang selama ini kerap dikaitkan dengan buah pisang ternyata memiliki latar belakang berbeda. Berdasarkan kajian toponimi, penamaan wilayah yang kini menjadi desa sekaligus kecamatan di Kabupaten Sidoarjo itu justru berhubungan erat dengan kondisi ekosistem pesisir pada masa lampau.
Pegiat sejarah Sidoarjo, Sudi Harjanto, mengungkapkan bahwa nama Gedangan sudah muncul dalam sejumlah peta peninggalan kolonial Belanda, setidaknya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Namun, makna nama tersebut tidak berasal dari kata “gedang” yang berarti pisang dalam bahasa Jawa.
“Gedangan berasal dari sebutan lokal untuk tanaman bakau. Secara ilmiah dikenal sebagai Aegiceras corniculatum, yang oleh masyarakat tempo dulu juga disebut Gigi Gajah atau Tudung Laut,” jelas Sudi Harjanto.
Ia menerangkan, tanaman tersebut umumnya tumbuh di kawasan perairan payau dan hutan mangrove. Pada masa lalu, wilayah Gedangan diyakini didominasi oleh vegetasi jenis ini, sehingga kemudian digunakan sebagai penanda nama kawasan.
Menurut Sudi, jejak-jejak tersebut dapat ditelusuri melalui ilmu toponimi, yang mempelajari hubungan antara nama tempat dengan kondisi geografis dan lingkungan di masa silam. “Nama wilayah biasanya tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan erat dengan karakter alam yang ada saat itu,” ujarnya.
Ia menilai pemahaman terhadap asal-usul nama daerah penting untuk memperkaya wawasan masyarakat tentang sejarah lokal. Banyak nama tempat di Sidoarjo, lanjutnya, yang menyimpan cerita lingkungan dan budaya namun jarang diketahui.
“Dengan memahami makna nama tempat, kita bisa belajar bagaimana leluhur kita mengenali alam dan menjaga lingkungannya. Ini penting sebagai bahan edukasi, terutama bagi generasi muda,” pungkasnya. (Zen)