SIDOARJO – Malam di kawasan PG Candi Baru tak lagi sekadar sunyi. Cahaya lampu temaram, bangunan tua bersejarah, dan cerita masa lalu berpadu dalam Festival Sepekan Malam, sebuah perhelatan bernuansa nostalgia yang digelar selama 22–29 Januari 2026 untuk memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167.
Festival ini mengajak pengunjung menyusuri kembali manisnya sejarah industri gula yang pernah menjadi denyut nadi Sidoarjo. Bukan sekadar pameran sejarah, festival ini dirancang sebagai pengalaman malam hari yang khas, menghadirkan suasana berbeda dari perayaan Harjasda pada umumnya.
Lebih dari itu, festival ini juga menjadi upaya mengenalkan kembali PG Candi Baru sebagai pabrik gula pertama di Sidoarjo. Keberadaan pabrik ini bukan hanya penanda industri gula, tetapi juga saksi sejarah awal industrialisasi di Kabupaten Sidoarjo yang membentuk wajah ekonomi daerah hingga hari ini.
“Kami ingin menghadirkan konsep yang unik dan punya ciri khas. Sepekan malam ini bukan hanya soal sejarah, tapi soal suasana, rasa, dan cerita yang bisa dinikmati siapa saja,” tutur Radithya Probo Ratu Nagoro, Ketua Komunitas Tilik Mburi. Ia menjelaskan, konsep tersebut lahir setelah berkoordinasi dengan Direktur PG Candi yang menginginkan pendekatan berbeda dari kegiatan sejarah yang sudah ada.
Selama ini, Komunitas Tilik Mburi dikenal aktif menggelar tur sejarah ke pabrik-pabrik gula yang umumnya dilakukan pada pagi atau siang hari. Melalui Festival Sepekan Malam, konsep tersebut dikembangkan menjadi tur malam hari agar menghadirkan sensasi baru sekaligus memperkuat atmosfer historis kawasan PG Candi Baru.
Pria yang akrab disapa Ditto tersebut menambahkan, di kawasan pabrik gula yang sarat nilai historis itu, pengunjung dapat menikmati beragam program, mulai dari pameran foto-foto lama Pabrik Gula Sidoarjo, mystery tour yang mengajak menyusuri sudut-sudut bangunan bersejarah, hingga talkshow, lomba mewarnai bertema PG Candi Baru, dan kegiatan hunting foto.
“Audiens kami adalah masyarakat umum. Kami ingin siapa pun bisa datang, menikmati malam, lalu pulang dengan cerita dan kesan tentang sejarah Sidoarjo,” papar Ditto. Menurutnya, festival ini diharapkan mampu menjadi ruang temu antara edukasi, hiburan, dan perayaan budaya yang inklusif.
Sebagai gelaran perdana, Festival Sepekan Malam masih menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan. Radithya berharap ke depan kegiatan ini dapat disajikan lebih epik dengan menggandeng kolaborasi yang lebih luas bersama komunitas seni dan kebudayaan, agar sejarah tak sekadar dikenang, tetapi terus hidup di tengah masyarakat. (Zen)