SIDOARJO – Kawasan Sepanjang atau yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Taman, Sidoarjo, ternyata menyimpan serpihan sejarah yang perlahan terlupakan. Di balik hiruk-pikuk aktivitas warga hari ini, pernah berdiri sebuah sekolah Tionghoa yang menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan dan budaya masyarakat setempat, yakni Zhonghua Xuexie.
Sekolah yang setara dengan tingkat sekolah dasar itu pada masanya menjadi tempat belajar anak-anak keturunan Tionghoa di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Namun, eksistensinya berakhir setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, ketika berbagai kebijakan di era Orde Baru berdampak langsung pada lembaga pendidikan berbasis etnis.
Pegiat sejarah Sidoarjo sekaligus Ketua Sidoarjo Masa Kuno, dr. Sudi Harjanto, mengungkapkan bahwa Zhonghua Xuexie merupakan salah satu sekolah Tionghoa yang cukup dikenal di kawasan Sepanjang. “Sekolah ini dulu dibangun untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar anak-anak Tionghoa yang tinggal di Sidoarjo,” ujarnya.
Menurut dr. Sudi, keberadaan sekolah tersebut tidak berdiri sendiri. Zhonghua Xuexie merupakan bagian dari sebuah kompleks yang memiliki fungsi sosial dan keagamaan. “Di area itu juga terdapat kelenteng yang cukup besar. Kawasan tersebut dulu menjadi pusat aktivitas sosial, budaya, sekaligus pendidikan masyarakat Tionghoa,” jelasnya.
Nuansa kehidupan Tionghoa kala itu terasa sangat kuat. Sekolah dan kelenteng saling melengkapi sebagai ruang belajar dan beribadah, sekaligus menjadi titik berkumpul komunitas. “Bisa dibilang, kawasan itu adalah jantung kehidupan masyarakat Tionghoa di Sepanjang pada masanya,” tambah dr. Sudi.
Namun, situasi berubah drastis pasca-1965. Kebijakan pemerintah Orde Baru yang membatasi aktivitas dan simbol-simbol budaya Tionghoa berdampak pada penutupan sejumlah sekolah, termasuk Zhonghua Xuexie. “Banyak lembaga pendidikan yang dianggap memiliki afiliasi etnis atau budaya tertentu akhirnya tidak diizinkan beroperasi lagi,” katanya.
Seiring waktu, bangunan sekolah tersebut mengalami alih fungsi. Saat ini, lokasi yang dulunya menjadi Zhonghua Xuexie telah menjadi SMP Muhammadiyah 2 Taman, melayani kebutuhan pendidikan generasi masa kini dengan wajah dan identitas yang berbeda.
Meski fisiknya telah berubah, jejak sejarah Zhonghua Xuexie tetap menjadi bagian penting dari narasi panjang Sidoarjo. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kawasan Sepanjang pernah menjadi ruang bertemunya beragam budaya, yang jejaknya masih dapat dirasakan hingga hari ini. (Zen)